24 Januari 2022 | Dilihat: 75 Kali

PEMILIK CORONG HILANG KENDALI

noeh21
ilustrasi
    
BRAVO8NEWS.COM -  Ada pengurus majelis ulama yang menginginkan NKRI dibubarkan sekalian, jika organisasinya dihapus  -  ada anggota dewan yang menghina pejabat yang bicara pakai bahasa Sunda.  Dan terakhir ada yang mengaku "wartawan senior"  tapi mulutnya kotor dan menista pulau Kalimantan.

Lengkap sudah para penghimpun opini yang punya corong dan bersuara di media - menjadi ancaman bagi keutuhan Republik Indonesia.

Mereka begitu terang terangan dan  garang dalam membuat kerusakan di dalam negeri sendiri. Mereka keliru menggunakan hak kebebasan berpendapat dan berekspresi.  

Sesungguhnya mereka orang orang "kemarin sore" bagi republik ini -  meski ada yang sudah tua. Sebab,  semua dari mereka tidak mengalami susah payahnya para pendiri bangsa ini mendirikan republik. Menyatukan Indonesia, merebut Irian Barat dari Belanda. Tidak merasai mengungsi dan bergerilya. Tak tahu menahu perjuangan diplomasi di dunia internasional.

Mereka telah hidup sejahtera, menikmati alam kemerdekaan, hidup makmur  melalui jabatan dan profesinya;  makan tiga kali sehari, dimuliakan oleh kursi empuknya, sulit diaudit pendapatannya,   ada yang mempunyai banyak mobil dengan plat nomor palsu.

Tapi dengan kasat nyata merusak tanah air sendiri. Maka saatnya rakyat dan negara, serta aparat yang diberi wewenang menegakkan hukum,  tegas bersikap: melalukan tindakan nyata dan bersih bersih.

Jika hukum berlaku untuk semua warga tanpa kecualinya - maka, mereka harus ditindak. Indonesia baik baik saja tanpa majelis ulama : sebab ulama yang tidak masuk MUI malah lebih baik dan jumlahnya juga lebih banyak.

Anggota dewan mudah digantikan atau partai yang mempertahankan akan kehilangan suara dengan sendirinya. Mengalami degradasi. Dan wartawan yang senior pun tak kebal hukum. Melekat dalam diri dan tugas dan profesinya menjaga sopan santun.

INDONESIA kehilangan makna tanpa pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Papua. Indonesia kehilangan makna tanpa bahasa Sunda, Jawa, Batak, Banjar, bahasa Bugis dan Minahasa serta bahasa daerah lainnya.

Dan Indonesia tidak membutuhkan ulama yang memprovokasi umatnya demi jabatan dirinya. Sejarah mencatat ulama ikut mendirikan republik dan menjaga keutuhan negara. Tak selayaknya mentang mentang lalu merusaknya.
 
Lalu - kewartawanan adalah tugas menyebarkan berita dan kebenaran dengan memegang teguh etik profesi. Dan ikut memberi kontribusi dalam perjuangan menyatukan negeri. Maka yang menyimpang dari itu adalah pengkhianat negeri. - Supriyanto Martosuwito