13 Juli 2021 | Dilihat: 156 Kali

JIWA SEAKAN MENANTI DICABUTI KELUAR DARI RAGA, HANYA SENI OBATNYA

noeh21
Brigjen Pol Chryshnanda DL
    
JAKARTA - Tatkala di sana sini korban pandemi berjatuhan semua lini kehidupan kembali duka lara jiwa manusia kembali terluka. Airmata meleleh mengiringi rasa duka cita. Jiwa seakan menanti dicabuti keluar dari raga. Mulut bergetar jemari gemetar mengucap doa bagi sanak keluarga yang kembali ke haribaaNya.

Jiwa tak hanya goyah seakan terbelah belah kata dukapun patah patah dilantunkan. Orang orang tercinta tak lagi mampu melambaikan tangan perpisahan. Jarak menjaga untuk tidak berdekatan.

Jiwa memang dalam duka lara. Masihkah ada obatnya? Tak tahu siapa lagi yang akan menjadi sandaran. Dokter dan tenaga medispun menjadi korban. Isak tangis keluarga tercinta tak pernah lagi melihatnya walau awalnya hanya berpamitan untuk bekerja.

 Rela ya hanya itu yang bisa disampaikan dalam isak tangis dan doa. Waktu hidup seakan tiada lama lagi hanya hitungan jari sedudah itu mungkin tiba giliran mati.

Seni mungkinkah obat jiwa di masa pandemi? Termenung kita seakan kita masih diminta berkarya dalam duka. Hanya manusia yang berani ya aku bersedia terus berkarya walau airmata dan jiwa yang terluka demi orang orang tercinta.

Seni haruskah dengan  kualitas tinggi? Tidaklah demikian. Manusia bisa berbuat apa saja untuk berseni. Apa saja bisa dilakukan sebagai catatan jiwa. Seni ibarat jiwa dalam duka. Bisa saja iya. Karena di situ ada tinggalan tak hanya nama dalam patok patok setelah dikuburkan. (Cdl) Senja memerah 120721