27 Desember 2021 | Dilihat: 95 Kali

GUS YAHYA, SELAMAT BERKHIDMAT DI PBNU

noeh21
Gus Yahya
    
BRAVO8NEWS.COM  - Dengan 97 juta anggotanya yang terdaftar di seantero Nusantara, dan manca negara - serta puluhan juta simpatisannya di seantero dunia - jelas setiap warga Indonesia perlu tahu siapa yang memimpin ormas Nahdlatul Ulama. Pucuk pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) baru saja berpindah dari KH Said Aqil Siradj ke Kyai Haji Yahya Cholil Staquf untuk periode 2021-2026.

KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya adalah keturunan dari KH Muhammad Cholil Bisri , ulama kharismatis di Rembang, Jawa Tengah. Dia adalah kakak kandung Gus Yaqut Cholil Qoumas yang kini Menteri Agama RI.  Ketua PBNU terpilih ini juga merupakan keponakan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus – yang dikenal sebagai seniman dan budayawan itu.

Hal yang menggembirakan bagi kita semua, nasionalis pecinta NKRI, Gus Yahya dikenal sama galaknya dengan KH Agil Siraj dalam membela 4 Pilar Kebangsaan: Pancasila, Merah Putih, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Selain itu, sebelumnya sudah dikenal sebagai “diplomat” NU yang banyak bekerjasama dengan dunia internasinal yang membawa misi perdamaian.

Gus Yahya, 55, yang fasih berbahasa Inggris dan Arab, banyak tampil di forum internasional adalah penerus perjuangan Gus Dur, dalam menebarkan paham pluralisme dan keragaman, toleransi dan egaliteraianisme.

Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah, 16 Februari 1966, menimba ilmu agama dari Madrasah Al Munawwir dan berguru pada KH. Ali Maksum di Krapyak, Yogyakarta. Selulus Madrasah, dia menempuh pendidikan umum di Fak Sospol - UGM, Yogyakarta.

Giat sebagai aktifis kampus, dia pernah menjadi Ketua Umum Komisariat Fisipol UGM Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta Periode 1986 – 1987, sebelum melanjutkan pendidikan agamanya di Mekkah, Arab Saudi (1996-1997)lalu mengajar di pesantren.

Mendapatkan 327 suara dari total 548 suara Pengurus Wilayah (PWNU), Pengurus Cabang (PCNU), Gus Yahya sebelumnya merupakan Katib Aam PBNU di periode 2015-2021.
Selain itu, beliau merupakan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pemerintahan Presiden Joko Widodo, melanjutkan tugas KH Hasyim Muzadi  yang wafat, beberapa waktu lalu. Semasa Gus Dur di istana, dia menjabat sebagai juru bicara kepresidenan.

Dengan perannya yang baru kini, Gus Yahya menawarkan sejumlah perubahan, termasuk menempatkan ulang posisi dan sikap PBNU menjelang Pemilu 2024.

Kepada TV-NU - sebelum berlaga di Muktamar Lampung, 23-25 Desember 2021 lalu, Gus Yahya menjelaskan visi misinya dan sesudahnya bicara kepada media, khususnya kepada CNN yang khusus mewancarainya seputar gebrakan yang akan dilakukan mengonsolidasikan kembali internal PBNU menjelang tahun politik.

KH Yahya ingin menyembuhkan luka akibat Pilpres 2019 lalu. Jelas sekali yang menjadi Cawapres orang NU, yang milih hanya 52%. Artinya 48 persen masih tidak ke tokoh NU. Padahal mereka NU.

Kepada TV-NU, Gus Yahya mengungkapkan, dampak Pilpres 2019 telah membelah NU ke dalam dua kubu 01 dan 02. Kemenangan Jokowi 58% dengan tokoh NU di posisi wakilnya, menggusarkan hatinya. “Artinya ada 48% orang NU yang tidak mendukung kader NU, “ katanya.

Karena itu, kini dia perlu konsolidasi. Mendesak.  “Kemarin bukannya secara sengaja NU mau berpolitik sebetulnya, tapi NU, katakanlah, terlibat dalam situasi yang kemudian menjadikannya masuk dalam politik, menjadi kompetitor di dalam pertarungan politik. NU sulit untuk mengelak dari keadaan itu. Menurut saya, persis karena konsolidasi yang belum siap, konsolidasi yang belum optimal.

Gus Yahya menyerahkan umat muslim bebas berekspresi. “Yang penting jangan ngutik utik Pancacsila, NKRI, Merah Putih dan Bhineka Tunggal Ika, “ tegasnya.
Mewarisi paham pluralisme yang diperkenalkan tokoh idolanya, Gus Yahya mengaku kenal Gus Dur 1987, masuk ke PBNU 2010.

BANYAK program yang akan diterapkan di NU kini. Tanpa menyalahkan siapa pun Gus Yahya menyebut cabang cabang di NU selama ini tak nyambung satu dengan yang lain. Pengurus Cabang NU,  Pengurus Wilayah dan Pengurus besar kurang terkoneksi akibat kontruksi politik. Persentuhan sifatnya horizontal. Persentuhan vertikal hanya berlangsung berkala, saat pemilu, konvensi dan muktamar.

PBNU dalam visi dan gagasan Gus Yahya adalah mencarikan program yang kerjasama pihak lain, negara maupun swasta untuk dieksekusi di oleh cabang-cabang. Secara intitusional cabang harus melaksanakan program yang didapat PB.

“Dengan menyerahkan ke cabang, PBNU punya kebutuhan memantau dan mengadvokasi dan komunikasi intens dengan cabang, agar bergulir proses konsolidasinya hingga terbentuk organisasi NU yang baru yang koheren, bersangkut paut, “ katanya kepada TVNU.

Ini sangat dibutuhkan karena sebaran NU sangat luas, meliputi 50 percen populasi. 120-an juta jiwa.  Memiliki 540 cabang atau 540 outlate. Membangun watak budaya, watak bersama. “Saya sudah ketemu semua. Para pengurus di bawah, bukan orang bodoh. Apes apesnya kepala sekolah atau pengusaha sukses dan pimpinan pesantren. Kalau diserahi program pasti bisa, “ katanya.

“Di wilayah Jawa mereka enak, bisa ngopi dan bicara dengan bupati dan gubenurnya. Tapi bagaimana dengan di Mentawai, Nias Manokwari, yang nggak punya leverage (tangga, jembatan)?” tanyanya.

Gus Yahya menghadapi tantangan NU untuk menggaet kalangan muda dan warga urban di perkotaan, yang sudah disabot Salafi-Wahabi, PKS dan Islam Transnasional. Agar basis NU tidak hanya hadir di berbagai desa, melainkan juga bisa menembus hingga "jantung" perkotaan. Sugeng Rawuh, Gus Yahya. Sugeng Lenggah. Selamat berkhidmat. (suprianto )