19 November 2021 | Dilihat: 117 Kali

SAYA INGAT SEKALI, FLY OVER PESING DAN BUS TRANSJAKARTA ITU PENINGGALAN GUBERNUR SUTIYOSO

noeh21
Sutiyoso
    
BRAVO8NEWS.COM - Saya ingat betul sebelum dibangun fly over Pesing Jakarta Barat  oleh Gubernur DKI Sutiyoso, banyak terjadi kecelakaan bahkan menelan korban jiwa karena daerah itu memang semrawut. "Bang Yos bikin jalan layang untuk memisahkan atau mengurai kepadatan," kata Makroen seorang dosen di salah satu Universitas ternama di Jakarta, Jumat(19/11/21).

Andai Bang Yos kala itu tak berfikir jauh ke depan, bisa jadi setiap hari lalulintas di perempatan Pesing tak bergerak. Alias terkunci karena para pengendara tak sabaran dan saling serobot.   

Sutiyoso adalah gubernur terakhir yang dipilih oleh anggota DPRD DKI Jakarta. Salah satu gebrakan Bang Yos adalah TransJakarta yang beroperasi sejak 15 Januari 2004. Era ini menandai reformasi angkutan umum ibu kota menjadi lebih nyaman, layak, dan manusiawi.

Hampir 1,5 bulan terakhir sejak menuntut ilmu lagi, sekurangnya 2 kali sepekan saya menunggang motor, mengaspal dari Kota Tangerang-Rasuna Said Jkt-Ciputat Tangsel. Terkadang naik Busway peninggalan Gubernur Sutiyoso.

Lagi-lagi muncul di benakku andai Bang Yos tak mengawali membangun tranportasi umum TransJakarta, apakah kita harus bergelantungan naik Bus Kota Gamadi, Merantama atau Mayasari Bhakti yang reyot dan bergelantungan. Seribu satu pelajaran bisa saya ambil. Ternyata saya makin sadar jika jaman dan perilaku manusia Indonesia benar2 anomali.

Orang benar bisa dianggap salah. Orang patuh bisa ditertawai dan 'dipaksa' berbuat salah. Saya yg selalu berusaha keras taat azas dalam berkendara, jadi 'aneh' sendiri. Di setiap traffic light misalnya, saya berhenti persis di belakang garis (rata2 saya berdua dg satu pengendara motor lainnya), terkadang diklaksoni oleh sesama pendara motor di belakang. Bahkan terkadang mobil pun ikut mengklakson.

Setelah mereka melewati saya, mereka pun kadang menengok saya heran, dikiranya saya makhluk dari planet lain. Pun di jalan layang Pesing, misalnya, 90 persen pengendara motor naik ke fly over, padahal ada rambu motor coret di kedua ujung fly over.

Begitu juga ketika saya naik TransJakarta, saya antri sesuai urutan tapi tiba-tiba ada saja penumpang yang main serobot mendahului masuk ke angkutan umum. Padahal, jelas-jelas ada petugas yang ngatur agar tertib.

Fakta ini berbicara, betapa perilaku kita jauh dari tertib, dan jalanan adalah  ajang nyata. Ini tantangan buat kita semua. Kiranya ada orang pendakwah yg terjun ke jalanan, untuk mengajak masyarakat tertib dan taat azas. Perlu dakwah on the road. (oko)