19 Juli 2021 | Dilihat: 74 Kali

TIGA PEMILIK APOTIK DI BOGOR JUAL OBAT DIATAS HET DITETAPKAN SEBAGAI TERSANGKA

noeh21
Kapolres menunjukkan barang bukti
    
BRAVO8NEWS.COM - Tiga pemilik apotek yang menjual obat COVID-19 dengan harga sangat tinggi di atas harga eceran tertinggi (HET) ditetapkan sebagai tersangka. Kini  penyidik  memanggil distributor PT Indofarma guna diminta keterangan sebagai saksi.

Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Susatyo Condro Purnomo saat dikonfirmasi Senin (19/7/2021) membenarkan, jika pihaknya sudah meminta keterangan dari distributor PT Indofarma yang mensuplai obat Ivermectin ke sejumlah apotek. "Apakah penyuplai obat juga akan dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan?. Distributornya PT Indofarma sudah diperiksa,"jawab Kombes Susatyo.

Orang nomor satu di jajaran kepolisian Kota Bogor ini menuturkan, yang sudah berstatus tersangka, adalah tiga pemilik apotek. Sementara distributor obat Ivermectin produk Indofarma masih sebatas saksi. "Kalau distributor hanya saksi. Justru data didapat dari distributor,"tegas Kombes Susatyo.

Ditempat terpisah, pemerhati kesehatan, Iskandar Sitorus mendorong,  agar keberhasilan pengungkapan obat Ivermectin produk Indofarma ini, terus didalami dan dikembangkan penyidikannya.

Iskandar Sitorus memberi respon positif atas keberhasilan tersebut. Ia mengaku, ini kejahatan korporasi yang ujungnya merugikan rakyat sebagai konsumen akibat nakalnya pemain obat yang menjual dengan harga diatas HET (harga eceran tertinggi).

Pendiri LBH Kesehatan ini meminta, agar dalam keadaan darurat wabah atau pandemi Covid-19, tidak boleh ada yang mencari untung berlebihan ditengah susah dan penderitaan rakyat.

Maka itu, terkait dengan ditemukannya stock atau penimbunan obat Ivermektin buatan PT Indofarma oleh Polresta Kota Bogor, maka  patut diduga, pabrik ini baru mendapatkan izin edar atas Ivermectin, yakni bulan Juni kemarin, namun sudah memproduksi dalam jumlah besar dan menjual ke tengah masyarakat.

Hal lain, pabrik inikan baru ditugaskan oleh pemerintah untuk melakukan uji klinis. Uji klinis ini dilakukan di delapan rumah sakit. Tidak hanya itu, patut diduga stock yang ditemukan Polresta Bogor Kota itu begitu besar bisa sedemikian banyak diwilayah Bogor, Jawa Barat. Ini menjadi pertanyaan tersendiri. Bagaimana dengan diwilayah lain?.

Nah kalau baru keluar izin edar, lalu mereka bisa memproduksi sebesar itu, padahal mereka mempunyai kewajiban terlebih dahulu untuk uji klinis tetapi sudah sedemikian besar stok ada dipasar dan diperdagangkan, bahkan harganya melambung melewati harga eceran tertinggi (HET), maka diduga sudah bisa berlapis-lapis pidananya. Bisa dijerat dengan undang-undang kesehatan, bisa dijerat dengan ketentuan-ketentuan lain terkait kedaruratan,"kata Iskandar.

"Jadi kondisi riel nya, kejahatan ini diduga sampai kepada corporate crime (kejahatan perusahaan). Perusahaan yang terlibat disitu dari mulai badan hukum apotik, ke atasnya yakni badan hukum perusahaan besar farmasi yang menjadi distributornya, ke atasnya sampai kepada pabrikan Indofarma. Itu gambaran kalau dilihat secara detail dan mendalam kasus yang di Polresta Bogor Kota," tegas pendiri LBH Kesehatan ini.

Diberitakan sebelumnya, tiga apotik yang menjual obat diatas harga normal yakni Apotek Medika Pahlawan dan Apotek Sentral Pangestu di Kota Bogor, serta Apotek Tanjakan Puspa di Kabupaten Bogor. Mereka ditangkap bersama barang bukti dan kini sudah berstatus tersangka. (and)